Sekedar Renungan Edisi Desember

Keluarga tempat saya mengabdi, adalah keluarga yang menurut saya sangat mengerti apa arti dari toleransi antar umat beragama yang dulu sering kita baca di pelajaran PPKn. Keluarga tersebut terdiri dari sepasang suami istri dengan dua anak perempuan dan mereka masing-masing memiliki tiga anak, dua diantaranya kembar. Sepasang suami istri tersebut katakanlah namanya Pak Surya dan Bu Surya dengan nama anaknya Mbak Dina dan Mbak Dita. Pak Surya, Bu Surya, Mbak Dina, suaminya dan ketiga anaknya menganut agama Kristen Protestan. Sedangkan Mbak Dita, Suami dan kedua anaknya menganut agama Islam, menariknya, salah seorang anak kembar Mbak Dita menganut agama Kristen seperti Eyang dan Kakungnya. 

Berinteraksi dengan mereka hampir setiap hari, membuat saya tahu, mereka telah sangat memahami arti dari toleransi itu sendiri, dengan menghormati agama masing-masing anggota keluarganya. Pernah suatu ketika, saya mendengar cerita Bu Surya yang juga memasak ketupat saat lebaran, dengan tradisi sungkeman, dan memasak gule kambing saat lebaran haji, dan juga memasak aneka hidangan ketika paskah dan tradisi tukar kado saat natal tanpa mengurangi kekhusukan ibadah masing-masing anggota keluarga. 

Melihat mereka sungguh membuat saya kadang malu, karena di luar sana masih saja ada perdebatan tidak berkesudahan mengenai haram/tidaknya mengucapkan selamat natal pada kawan yang beragama Kristen atau sibuk melabeli sesamanya dengan sebutan kafir atau aqidahnya sudah goyah dengan mudah. Bukankah iman, aqidah, akhlak dan kualitas keimanan seseorang hanya ditentukan oleh Allah SWT dan hanya Beliau-lah yang Mahatahu?


Atau saya yang hanya sudah terlalu liberal? :) 

Comments

Popular Posts