draft yang akhirnya diputuskan untuk di-publish
Ironisnya justru disinilah aku mendapat
perlakuan tidak mengenakkan dari sesama orang Indonesia. Ya, sebagai
sesama orang indonesia yang sedang merantau di negeri orang, seharusnya
kami saling mendukung kan? Tapi tidak, justru selama ini orang-orang
asli Thailand-lah yang banyak membantu. Satu-satunya orang indonesia
yang selama ini aku harapkan bisa mendukung dan membantu banyak malah
memalingkan muka dan memberikan kesan ke orang Indonesia yang lain bahwa
aku hanyalah seorang bodoh yang tidak tau apa-apa dan berani-beraninya
datang ke Thailand dengan bermodalkan bahasa inggris terbata-bata dan
ilmu yang dangkal.
Aku kaget dan terpukul ketika mengetahui
bahwa orang itulah yang menyebarkan berita kalau aku bodoh dan aku akan
merengek-rengek minta pulang ke Indonesia. Bahkan ia pun bertaruh aku
tidak akan tahan lebih dari dua minggu dan meminta pulang ke Indonesia
secepatnya. Memangnya dia pikir dia siapa, terlebih setelah aku
mengetahui kalau dia suka sekali membicarakan tentang harta dan
kedudukan orang Indonesia yang lain, seperti si A anak pejabat ini, si B
dosen di sini, si C keturunan bangsawan suku ini. Ketika ia bertanya
padaku, apa pekerjaan orangtuaku, dengan enteng aku menjawab, kalau
ibuku wiraswasta biasa dan ayahku sales teh botol. Mungkin ia
beranggapan kalau aku tidak cukup pantas disejajarkan dengan kaum-kaum
elit yang selama ini dia bicarakan, sehingga dia menjelek-jelekkan aku
di belakang.
Di Lab, aku berteman dengan semua orang,
dulu ketika masih ada Mas Mitra, dia-lah yang jadi temanku mengobrol
setelah orang Indonesia yang satu itu pulang. Mas Mitra orangnya fair,
dan dia tidak pernah menyinggung-nyinggung tentang pekerjaannya sebagai
dosen di salah satu universitas ternama di Jogja. Dia hanya berkata, di
sini kita sama-sama orang Indonesia, tidak ada yang namanya dosen,
mahasiswa, suku ini, status itu, semua orang sama. Sama-sama orang
indonesia yang belajar dan merantau di negeri orang.
Selain mas mitra, ada beberapa mahasiswa
thailand yang cukup akrab denganku. Justru mereka adalah orang-orang yang
di-cap sombong oleh orang Indonesia yang sama (yang menyebutku bodoh itu).
Aku pada awalnya sempat termakan oleh omongannya, dan menganggap mereka
sombong seperti yang dia ceritakan padaku. Akan tetapi semakin lama,
aku merasa mereka-lah yang pada awalnya sering menyapaku lebih dulu,
menawarkan untuk jalan-jalan berkeliling Bangmod, Bangkok, dan
sekitarnya. Dan mengajakku makan siang ketika waktu makan siang tiba.
Dan ketika aku sakit, mereka lah yang khawatir dan menyarankanku untuk
pergi ke dokter. Lalu dimana letak sombongnya mereka? Oke mungkin mereka
agak aneh karena (maaf) dua orang lesbian dan mereka terang-terangan
mengaku kalau mereka lesbi, dan satu orang mungkin adalah mahasiswa
tertua yang ada di lab dan memiliki selera berpakaian yang cukup aneh.
Tapi bagaimanapun mereka tetap manusia kan? Kita tidak akan pernah
berhak untuk menjudge manusia lain kan? Dan kita kita juga tidak punya
hak untuk mengadili atau menghakimi seseorang dan menentukan mana yang
salah dan mana yang benar.
Comments
Post a Comment