Apr.04. kasihan

"...aku udah ga sayang sama dia lagi, aku cuma sayang kamu..."
(padahal yang dia sebut sebagai 'dia' adalah istrinya)
-kasihan-

"...Mungkinkah dia mulai bosan seperti aku yang juga mulai muak dengan ketidakjelasan ini. Entahlah apa yang ada di pikiranmu saat ini. Kamu menggantung aku..."
(padahal orang yang dimaksud sedang menghabiskan waktu bersama orang yang lain, yang lebih segalanya)
-kasihan-
Anda tidak bisa mencintai dua orang bersamaan ,yang anda dapat lakukan hanyalah menyakiti kedua-duanya secara bersamaan.
Well, saat dimabuk cinta kadang manusia suka lupa dengan kulit asli orang yang dicintai
Sampai-sampai kelakuan buruk pasangan dipandang sebelah mata atau bahkan brani menutup mata dan dengan angkuh berkata “nggak kok, dia gak kaya begitu”.

Ini bukan cerita yang sengaja dibuat menyindir pihak-pihak yang saya kenal (ya tapi kalau anda tersindir, itu sama dengan “yes, saya pernah selingkuh atau yes, saya memang besar kepala).

Ada banyak jenis tingkatan perselingkuhan, mulai dari yang taraf amatir hingga taraf yang bisa membuat pecahnya suatu ikatan suci yang bernama pernikahan. Ya..seberapapun tingkatan yang anda (para peselingkuh) terapkan dalam gaya perselingkuhan anda tetap saja akan meninggalkan rasa sakit dipihak (yang katanya adalah) pasangan anda.

Apa sih sebenarnya penyebab perselingkuhan terjadi?

Bosan ? Iseng? Hobi? Merasa tertantang? Apapun itu… kalian para peselingkuh adalah sosok lemah- yang tidak tahan godaan.

Well, sebelum lanjut baca, mohon maaf ya, cerita ini sedikit lebih memojokan kaum adam, kenapa? Ya..karena saya si penulis adalah kaum hawa dan entah kebetulan atau apalah itu namanya, persentase jenis kelamin yang berselingkuh disekitar saya lebih banyak dilakukan oleh  jenis kelamin yang berlawanan dengan saya.

Saya bicara tentang apa yang saya lihat, dengar dan rasakan disekitar saya, bukan mencoba sok pintar menggambarkan dunia perselingkuhan secara garis besar dan dalam konteks yang lebih luas.
Sang pasangan, Ada perempuan dengan relanya dimadu, atau yang biasa dalam agama saya disebut “dengan ikhlasnya”

Begini alibi yang sering saya dengar dari tipe ini :

“di Agama saya diizinkan menikah hingga 4 kali, seperti layaknya sang Nabi”

Ok, agama si perempuan sama loh dengan saya.. Ingat, masih ada lanjutan dari “peraturan” yang membolehkan Laki-laki menikahi perempuan lebih dari satu.. “asalkan Dia bisa Adil”.

Pertanyaan selanjutnya adalah: “apakah manusia bisa adil??”

Seorang ibu saja yang katanya kasihnya sepanjang jalan, masih ada yang lebih memanjakan si bontot yang manis dan imut atau lebih mendahulukan si sulung yang sukses dan membuat bangga.


Tau jugakan kenapa sang Nabi diberi title “Nabi Akhir Jaman” ? karena dia adalah manusia tersempurna menurut Tuhan, hingga Tuhan saja bangga menyebutnya sebagai “KekasihNya”
Hmmm..lain cerita yah, kalau misalkan memang suami situ adalah duplikat plek plek Sang KekasihNya.. atau sudah diakui secara massal dia adalah sosok manusia sempurna.

Coba deh telaah lagi arti ikhlas sang pasangan.. yakin benar-benar ikhlas? Benar tidak ada air mata yang menetes saat membayangkan apa yang sedang suami anda lakukan bersama istri-istri yang lain? Kalau jawabannya tidak ada… saya salut pada anda.. mungkin anda adalah manusia berhati batu yang sudah tidak mencintai suami anda.

Apa benar hati anda tidak teriris saat mendengar suami anda mencintai wanita lain dan ingin menikahinya? Yakin ikhlas? Oh well, lagi-lagi ini hanya pendapat saya, kalau anda bisa dan menikmatinya.. selamat menikmati lagu “madu tiga” Ahmad Dhani. Pembelaan dari si peselingkuh dalam contoh ini : “Di Agama (lagi-lagi dijadikan tameng) dihalalkan menikahi perempuan lebih dari satu jika kita bisa adil, dan saya yakin saya bisa adil”

Hmmmffff …..sulit sekali saya menahan tawa mendengar pernyataan tersebut, kenapa? Hey, anda Nabi? anda Tuhan? Title anda masih manusia juga kan? Yakin bisa adil?

Oh..c’mon… saya juga, di Agama saya juga diajarkan hal itu.. tapi lama-lama saya bosan dan muak mendengar  ajaran Agama dijadikan alasan sang suami berselingkuh.

Oh…ada lagi alasan lain yang pernah saya dengar… “dari pada zina, lebih baik dinikahi”

Heeh??  Oi! Dari pada zina, lebih baik lu setia sama istri lu, itu yang bener!

Dalam kasus rumah tangga memang lebih pelik dari pada sekedar perselingkuhan didalam kasus “pacaran” .. saya memang belum menikah tapi jangan takut,  saya bicara seperti ini menurut pendapat pribadi saya.  

Jadi tenang, saya (sok) menulis seperti ini bukan sekedar serangan membabi buta kepada para peselingkuh, semuanya pernah saya lihat dalam kehidupan saya yang paling terdekat (baca: beralasan).

Ada kasus yang masih bisa ditolerir dengan akal sehat tentang “menikah lebih dari satu” .. akan menjadi terlihat “biasa saja” atau bahkan “luar biasa” pada saat seorang istri yang kurang sempurna (hmmm.. sebutlah : tidak bisa memberikan keturunan atau sakit yang menyebabkan dia tidak bisa melayani suaminya) dan dia dengan “Ikhlas” mengizinkan sang suami menikahi perempuan lain yang bisa memberikan apa yang tidak bisa dia berikan.

Beneran ikhlas kah?  Hmmm… saya yakin, masih ada air mata di kata ikhlas tersebut, masih ada sedikit kata iri didalam ikhlasnya. Iri karena kenapa bukan dia saja yang memberikan keturunan (toh bukan maunya jg dia menjadi perempuan yang tidak bisa melayani & memberikan keturunan pada orang yang dia cintai)

Kita definisikan kata ikhlas disini … ikhlas itu adalah hmm….  hmmm… (ah..belum terlalu arif saya menjabarkan kata ikhlas disini) contohnya seperti (maaf) buang air besar, itu baru contoh ikhlas manusia yang paling nyata, dimana dia rela mengeluarkan sesuatu hal dalam dirinya tanpa berharap itu akan kembali, tanpa ngedumel, tanpa air mata pada saat kehilangan. Itu ikhlas yang paling ikhlas menurut saya.

Ikhlas (titik).  Tanpa air mata, tanpa iri, tanpa sakit hati.

Kalau belum bisa sampai situ, itu namanya pasrah.

Ok.. pribadi manusia sangatlah berbeda-beda.. mungkin ada yang bisa menerima perselingkuhan atas nama “boleh kok menikah lebih dari satu di Agama yada yada yada~”

Jika anda memang manusia sempurna yang bisa adil dan berpasangan dengan wanita berhati ikhlas yang luar biasa.. ya~ selamat menikmati poligami.

Jika saya yang ditanya, mau kah? InsyaAllah Tidak.
……………..

Pacaran…  kalau mau mulai lagi bicara Agama saya, tidak ada yang namanya Pacaran, tapi berhubung saya bukan umat yang terlalu religius, saya enggan terlalu lebar menjabarkan definisi pacaran dari sudut Agama. Karena toh saya juga contoh manusia yang menikmati jatuh cinta dan patah hati yang dikemas dalam kata “pacaran”.

Manusiawi sekali rasa bosan menerjang manusia, sayapun pembosan tapi bukan berarti saya setuju dan ikut-ikutan tren selingkuh atau poligami dalam pacaran.

Sebenarnya, baik menikah atau pacaran, saat pasangan kita berselingkuh satu kata yang rasanya sama, yaitu “Sakit”. Sakit yang rasanya lebih menguliti dari sekedar sakit bisa diobati dengan obat-obat di apotik. Kecewa, marah, kesal dan air mata…

Sampai-sampai sering sekali dihati dan otak saya menimbulkan pertanyaan “apakah sebegitu susahnya kamu setia?”

Ok, ini ada beberapa kebohongan besar yang paling saya dengar disekitar saat hubungan sudah tidak bisa lagi dipertahankan :
-aku lebih nyaman seperti dulu, saat kita masih berteman;
-aku tidak ada apa2 dengan dia, kita hanya teman (2 minggu kemudian mereka jadian);
-kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku, atau dibalik aku ga pantes buat kamu
Eeeggrrr… arti tiga kalimat panjang itu adalah “oi..gua bosen sama lu!”

Yup, itulah kenapa saya bilang para peselingkuh itu “lemah” masih sedikit yang brani mengakui bahwa dia jatuh cinta dengan orang lain atau dia merasa bosan dengan pasangannya. Masih sedikit sekali, yaa.. atas nama “tidak mau menyakiti” maka munculah kata-kata “manis” seperti yang saya contohkan tadi.

Kalau memang benar “tidak mau menyakiti” ya jangan selingkuh… Masih banyak alasan yang lebih bisa dihormati daripada sekedar “bosan” dan “selingkuh” untuk dijadikan alasan dalam memisahkan diri dari “jeratan” pacaran (yang sudah membosankan) atau… sebegitu susahkah kalian para peselingkuh mengakui kelemahan kalian yang “gampangan” ? huh?

Sebenarnya sang peselingkuh tahu benar apa yang akan dirasakan pasangannya saat mengetahui bahwa dia berselingkuh, atau bahkan perasaan sang orang baru yang dijadikan selingkuhan saat tahu posisinya hanya “penghibur bosan” dan dijadikan selingkuhan
Hey..Stop it! It’s HURT!  Akan ada sosok sosok yang menangis dibelakang bahagia anda para peselingkuh, akan banyak cacian serta sumpah serapah dari orang yang dengan segenap hati anda kecewakan.

Mulai bayangkan anda diposisi yang diselingkuhkan, mulai bayangkan bagaimana jika istri anda mencintai dua lelaki dan ingin sekali menikahi laki-laki tersebut.
Mulai bayangkan jika anda hanyalah orang yang dijadikan selingkuhan.
Rasanya seperti sampah yang dulu dipuja lalu dibuang dan hanya disisakan rasa kecewa dan airmata yang berkristal.

Saya bisa menjabarkan seperti ini karena saya juga pernah merasakan diselingkuhi, saat sudah menduga “ada yang tidak beres” dan pasangan tidak mengaku dan pada saat hubungan anda berakhir semua dugaan sudah menjadi nyata dalam waktu kurang dari itungan hari yang bisa dihitung dengan jemari. Dan itu rasanya seperti sampah, bedanya.. saya enggan mengeluarkan airmata untuk seorang peselingkuh.  Palingan saya menoyor kepala sendiri sambil bilang “ah sialan, ketipu bajingan.”

Sakit hati pasti ada, sedih juga ada, tapi untuk menangis demi seorang peselingkuh, oh maaf..saya lebih memilih menangis karena menonton drama korea meskipun sudah jelas-jelas cuma fiksi.

Saya dengan lantang berkoar tentang jahatnya perselingkuhan bukan karena saya sok tahu, tapi saya pernah jadi korban, teman dekat saya pernah mengalaminya, tetangga saya tau bagaimana rasanya, musuh saya yang hancur karena air mata perselingkuhan.

Well, apapun alasan anda berselingkuh dan siapapun anda, anda tetap seorang bajingan tidak punya hati yang pengecut dan lemah dimata saya. Anda Sampah.

Solusi? Biasanya semua tulisan pasti di akhir ceritanya ada kata penutup yang berisikan “solusi” .. hmmm…solusi saya? Hmmm… mudah,  jangan pernah (atau sekedar niat) selingkuh.  Jangan jadi pengecut yang hanya bisa menyakiti hati orang yang mencintai anda.

Anda pasti memacari dia dan menikahi pasangan anda awalnya karena ada cinta disana, anda yang sengaja berlutut meminta dan bertanya “maukah menjadi istriku?” atau sekedar menulis surat “lu mau ga jadi cwe gua?” itu semua karena anda mencintainya atau setidaknya menginginkan dia karena ada rasa sayang didalamnya. Ada harapan yang anda tumbuhkan dari pertanyaan singkat tersebut pada diri pasangan anda.

Apakah anda sebegitu jahatnya menghancurkan harapan dan janji – janji yang sudah sengaja anda tanamkan lalu anda hancurkan berkeping keping hanya dengan karena alasan bosan? Ya…alasan paling utama pasangan berselingkuh adalah Kebosanan. Sebegitu lemah dan rendahkah anda mengatasi rasa bosan yang manusiawi tersebut dengan perselingkuhan? Sebegitu tidak pintarkan anda menahan nafsu untuk menyakiti dan mengecewakan pasangan dengan berselingkuh? Oh…semoga saja hanya sedikit orang yang sebodoh, sejahat, selemah dan serendah anda… Semakin sedikit jumlah populasi manusia sejenis anda akan semakin sedikit air mata orang-orang yang mencintai anda kecewa dengan kelakuan murahan anda.

Dan biasanya sih akan ada yang iseng berceloteh, “nanti klo semua orang isinya orang baik, hidup tidak akan berwarna dong?” Hey.. minus peselingkuh, didunia saya masih ada yang namanya maling, anak durhaka, koruptor, macet, harga sembako mahal, plagiat karya, bos yang bawel, deadline.. yang menurut saya sudah cukup membuat dunia saya berwarna. Jadi minus atau berkurangnya peselingkuh tidak mengurangi warna.

Anda tidak akan dinilai hebat saat bisa memacari 2 perempuan sekaligus atau menikahi 4 perempuan dan membanjiri mereka dengan omong kosong “adil”. Anda akan jauh lebih bisa dipandang, saat anda menjadi sosok pecinta yang setia yang anti dan ikut sedih saat melihat pasangan anda tersakiti dan tetap menjaga pasangan anda dengan baik dengan menghadirkan warna didalam hidupnya yang bukan dengan cara berselingkuh.

Setialah teman… setialah… seperti pohon yang dengan setia selalu menjernihkan karbondioksida menjadi oksigen agar kita tetap bisa hidup, bagaimanapun kondisi gersangnya kota yang kita tinggali.

Setialah…jagalah hati pasangan kita dengan tidak membagi hati kita yang sudah cukup sempit kepada beberpa sosok atas nama bosan. Jika belum bisa setia, janganlah berani berucap janji, janganlah berani mengumbar kata yang memberi keterikatan. Jika belum bisa setia..janganlah berlagak sok setia namun penuh dengan duka.

Setialah…ya…solusinya hanya SETIA.

Bahagialah dengan apa yang telah susah payah dimiliki, posisikan diri anda sebagai pihak yang diselingkuhi. Bersyukurlah, anda telah memiliki pasangan yang mencintai anda.
Setialah, agar makin sedikit air mata kecewa yang hadir di hati para pecinta yang terselingkuhi. Setialah….

…well, ini semua hanya pemikiran dari saya yang masih belum ada seperempat abad menghirup udara pengalaman di bumi, yang sudah jenuh sekali melihat air mata akibat perselingkuhan disekitarnya, dan saya sangat tertarik dengan kata “setuju dan tidak setuju” ……

Comments

Popular Posts